BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Sabtu, 15 Agustus 2009

MAKALAH IMPLEMENTASI MANAJEMEN MUTU ISO DALAM UPAYA MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN DI SMK NEGERI 3 KUNINGAN

( Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Kebijakan dalam Sistem Pendidikan)










Oleh :
ARIYAH
NIM 82320809464
KELAS CD






PROGRAM PASCA SARJANA
PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN PENDIDIKAN
UNIVERSITAS GALUH CIAMIS
2009

KATA PENGANTAR



Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia-Nya penulis telah dapat menyusun makalah yang berjudul “ Implementasi Manajemen Mutu ISO dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pendidikan di SMK Negeri 3 Kuningan”,
Makalah ini penulis susun guna memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Kebijakan dalam Sistem Pendidikan.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. DR. H. Suherli, M.Pd selaku Dosen Mata Kuliah Kebijakan dalam Sistem Pendidikan yang telah memberikan dorongan dan bimbingan dalam pembuatan makalah ini.
2. Teman-teman yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini tentunya jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran untuk perbaikan yang akan datang.
Mudah-mudahan makalah yang sederhana ini dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi dunia pendidikan.













Ciamis, Agustus 20


penulis





DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………. …… i

DAFTAR ISI………………………………………………………. ii

BAB 1 PENDAHULUAN………………………………………… 1

BAB 11 KEBIJAKAN MANAJEMEN MUTU

2.1 Konsep Manajemen Mutu……………………………………… 3
2.2 Tujuan System ManajemenMutu…………………………........ 3
2.3 Sasaran Manajemen Mutu……………………………………... 3
2.4 Proses Penjaminan Mutu………………………………………. 4
2.5 Prinsip-prinsip Peningkatan Mutu Pendidikan………………. 5
2.6 Manajemen Mutu ISO………………………………………….. 6
2.6.1 Pengertian ISO…………………………………………… 6
2.6.2 Tujuan Standar ISO Seri 9001-2008……………………. 7
2.6.3 Manfaat Standar ISO Seri 9000………………………... 7
2.6.4 Prinsip Dasar Manajemen Mutu ISO …………………. 7
2.6.5 Elemen-elemen ISO 9001-2008…………………………. 7

BAB 111 PEMBAHASAN

3.1 Visi, Misi dan strategi SMKN 3 Kiningan…………………….. 13
3.2 Kebijakan Mutu SMKN 3 Kuningan…………………………. 13
3.3 Sasaran MUTU SMKN 3 Panawangan………………………. 14
3.4 Penerapan Mutu ISO di SMKN 3 Kuningan………………… 16

BAB IV SIMPULAN DAN SARAN

4.1 Simpulan……………………………………………………….. 18
4.2 Saran…………………………………………………………… 18

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN






BAB 1
PENDAHULUAN


Peningkatan kulitas pendidikan merupakan program yang dianggap sangat penting oleh hamper semua orang.Apalagi dalam menghadapi berbagai tekanan dan persaingan dari luar, kesiapan yang harus dilakukan adalah meningkatkan kualitas manusia Indonesia.Lembaga pendidikan merupakan lembaga yang memiliki tanggung jawab yang besar terhadap peningkatan kualitas manusia.Namun pentingnya lembaga pendidikan tersebut belum didikuti dengan tindak lanjut berupa pemberian fasilitas yang memadai, termasuk kesejahteraan para guru. Walaupun demikian para pengelola pendidikan harus terus berusaha dengan ikhlas agar produknya memiliki kemampuan yang dibutuhkan masyarakat.
Tingkat kualitas pendidikan selalu berkembang sesuai dengan perkembangan tuntutan masyarakat. Tuntutan masyarakat ini ditentukan oleh perkembangan teknologi, dan ilmu pengetahuan serta seni. Saat ini berkualitas, saat lain bisa menjadi kurang berkualitas. Oleh karena itu peningkatan kualitas harus dilakukan secara berkelanjutan. Maksudnya, selalu ada peningkatan kemampuan sumber daya manusia produk lembaga pendidikan. Oleh karena itu, peningkatan kualitas berkelanjutan merupakan usaha untguk memberi jaminan mutu pendidikan.
Kualitas pada dasarnya dapat berupa kemampuan, barang dan pelayanan. Kualitas pendidikan dapat menunjuk kepada kualitas proses dan kualitas hasil (produk). Suatu pendidikan dapat bermutu dari segi proses ( yang sudah barang tentu amat dipengaruhi kualitas masukannya) jika proses belajar mengajar berlangsung secara efektif, dan peserta didik mengalami proses pembelajaran yang bermakna (meaningful learning) dan juga memperoleh pengetahuan yang berguna baik bagi dirinya maupun bagi orang lain (functional knowledge) yang ditunjang secara wajar oleh sumberdaya (manusia,dana, sarana dan prasarana).Itu juga berarti bahwa proses pendidikan yang berkualitas akan menghasilkan produk pendidikan yang berkualitas pula.Untuk itu maka untuk memperoleh jaminan kualitas yang meyakinkan perlu disiapkan dan dilakukan intervensi terhadap proses secara sistemik dan sistematis.
Namun demikian berkualitas dari segi apa? atau bagaimana cirri suatu produk pendidikan yang disebut berkualitas? untuk itu beberapa cirri berikut patut dikemukakan dengan catatan apabila produk pendidikan itu memiliki lebih dari satu cirri berikut maka disebut bermutu.
Ke-satu, bila peserta ddidik menunjukan kadar penguasaan yang tinggi terhadap tugas-tugas belajar (learning task) seperti yang telah dirumuskan dalam tujuan dan sasaran pendidikan diantaranya adalah hasil belajar akademik yang dinyatakan dalam prestasi belajar
Ke-dua, hasil pendidikan peserta didik juga sesuai dengan tuntunan kebutuhan peserta didik dalam kehidupannya, sehingga selain mengetahui tentang sesuatu juga mampu melakukan sesuatu juga mampu melakukan sesuatu itu secara fungsional bagi kehidupan.
Ke-tiga hasil pendidikan peserta didik sesuai dan sepadan dengan kebutuhan lingkungan khhususnya dengan dunia kerja. Karena itu maka relevansi menjadi salah satu indicator mutu.
Robin mengintai masa depan melalui organisasi, karena itu organisasi mempelajari atau mengacu pada masa depan dsapat menempatkan dirinya sendiri ketika mereka menemui kalang kabutnya perubahan. Mereka menyiapkan Visi, system, struktur tidak hanya saat melalui suasana berubah tetapi juga maju karenanya. Semua bisnis yang beroganisasi pelayanan menghadapi tantangan untuk menghadapi masa depan yang berkelanjutan.
Perubahan zaman yang silih berganti dan fenomena dunia pendidikan pun telah mengalami dekadensi sehingga tantangannya cukup berat dirasakan oleh pelaku pendidikan. Ditambah persaingan dalam menghadapi pasar kerja nasional dan kebijakan pasar bebas ASEAN dan ASIA FASIFIK, yang dirasakan menjadi ancaman bagi keluaran pendidikan di tanah air seperti dalam menghadapi persaingan tenaga kerja asing. Tuntutan semua produk berkualitas , bahkan barang-barang luar negeri yang dianggap berkualitas nyata-nyatanya sangat murah disbanding barang-barang produk dalam negeri merupakan pukulan bagi produk dalam negeri yang tidak lepas dari sasaran pendidikan. Sementara itu perbedaan persepsi tentang kepentingan pendidikan dan penghasilan yang dirasakan sesaat nampak lebih mendapat tempat di masyarakat mereka lebih memperhatikan pendapatan ketimbang pendidikan yang dipandangnya memerlukan waktu yang panjang dan biaya yang mahal. Disini pelaku pendidikan harus memberi keyakinan bahwa dengan pendidikan akan lebih memberikan kesejahteraan bagi individu dengan waktu yang lama dan panjang.
Sebagaimana kita ketahui pendidikan memiliki posisi, relasi-relasi dan peran-peran internal dalam wilayah pendidikan sendiri maupun eksternal dengan berbagai lingkungan kemasyarakatannya. Berhubung dengan itu, pendidikan sebagai satuan system yang bersinergi dengan sub-sub system yang memerlukan pengorganisasian unsure-unsur internalnya secara komprehensip.Pendidikan sebagai poros utama yang menjalankan fungsi sumber daya manusia.
Reformasi yang efektif dalam pendidikan memerlukan adanya partisipasi dari semua pihak yang terkait bdengan pendidikan. Pendidikan harus dipandang sebagai suatu system yang terpadu didalam masyarakat ketimbang sebagai suatu organisasi terpisah yang sekaligus merupakan sebagai suatu issue kunci. Deming menyatakan tentang filosofi Manajemen Gugus Mutu (TQM) sebagai suatu issue kunci bagi pelayanan pendidikan. Namun demikian ,sungguh sangat disayangkan bahwa hal itu kurang diperhatikan dan bahkan tidak sama sekali oleh sebagian besar pembaharuan kependidikan selama ini.
Sebagian para pemimpin pendidikan gagal dalam upaya mengimplementasikan mutu, karena mereka tidak bersedia membuat komitmen yang diperlukan agar berhasil. Kebanyakan professional pendidikan mengharapkan mutu itu agar dapat menjadi semacam “pendekatan yang serba tepat” dalam memecahkan berbagai permasalahan kependidikan yang begitu rumit sebagaimana yang dihadapi. Sehingga budaya mutu pelayan pendidikan sebagai tonggak daya saing dalam pencapaian mutu total.







BAB 11
KEBIJAKAN MANAJEMEN MUTU

2.1 Konsep Manajemen Mutu
Manajemen mutu merupakan suatu cara dalam mengelola suatu organisasi yang bersifat komprehensif dan terintegrasi. Manajemen mutu diarhkan dalam rangka :
a) memenuhi kebutuhan konsumen secara konsisten, dan
b) mencapai peningkatan secara terus-menerus dalam setiap aspek aktivitas organisasi.(Tenner dan D Toro,1992)

2.2 Tujuan system Manajemen Mutu

Tujuan utama dari system manajemen mutu adalah untuk mencegah terjadinya kesalahan dalam proses produksi dengan cara mengusahakan agar setiap langkah yang dilaksanakan selama proses produksi diawasi sejak permulaan proses produksi itu. Apabila terjadi kesalahan dalam proses produksi segera dilakukan perbaikan sehingga terjadinya kerugian yang lebih besar bisa dihindari. Dalam manajemen mutu, system ini memiliki keunggulan yaitu produk yang dihasilkan terjamin mutunya, karena pencegahan kesalahan dalam proses produksi dilakukan secara ketat. Meskipun dalam jangka pendek untuk memulai penerapan system manajemen mutu seperti ini relative mahal., karena harus tersedia berbagai sumber daya manusia, yang andal, namun dalam jangka panjang system ini sangat menguntungkan, karena dapat mencegah atau memperkecil kegagalan dalam proses produksi

2.3 Sasaran Manajemen Mutu

Sasaran yang dituju oleh manajemen mutu adalah meningkatkan mutu pekerjaan, memperbaiki produktivitas dan efisiensi melalui perbaikan kinerja dan peningkatan mutu kerja agar menghasilkan produk yang memuaskan atau memenuhi kebutuhan konsumen. Jadi manajemen mutu bukanlah seperangkat peraturan dan ketentuan yang kaku dan harus diikuti, melainkan seperangkat prosedur dan proses untuk memperbaiki kinerja dan meningkatkan mutu kerja, Dapat pula dikatakan, bahwa manajemen mutu adalah suatu sistem manajemen yang secara terus menerus mengusahakan dan diarahkan untuk meningkatkan kepuasan konsumen dengan biaya murah. Murahnya biaya itu adalah karena produk yang dihasilkan bermutu dan bebas dari kegagalan yang mengakibatkan kerugian sehingga perbandingan antara output dan input menjadi tinggi.
Dalam penerapan system penjaminan mutu, proses yang terjadi menggamgambarkan semua kegiatan yang menjamin produk yang dihasilkan melalui proses yang dijanjikan. Dengan system ini kebuyuhan akan kegiatan inspeksi yang terbatas hanya memisahakan produk yang bagus dan jelek dapat dieliminasi atau dikurangi.

2.4 Proses Penjaminan Mutu

Proses penjaminan mutu dimulai dengan penetapan standar, prosedur dan input suatu system, sementara produk dari proses jaminan mutu tersebut adalah konsistensi antara standar, prosedur dalam proses dengan standar, prosedur dalam input yang telah ditetapkan sebelumnya. Derajat konsistensi antara berbagai standar mutu yang dijanjikan dalam input dengan pelaksanaan dalam proses, merupakan umpam balik dalam menindaklanjuti terutama untuk memeriksa dan meningkatkan kualitas pendidikanyang sedang dilaksanakan.
Pada praktek manajemen mutu, dalam rangka memproduksi barang atau jasa, pertimbangan, aspirasi, dan keinginan pelanggan harus dipertimbangkan. Selain itu semua faktor yang terkait dengan proses produksi harus dikelola sedemikian rupa sehingga menjamin produk yang dihasilkan memenuhi bahkan melebihi keinginan dan harapan pelanggan. Penerapan pendekatan manajemen itu tidak lagi memerlukan pengendalian mutu setelahproduk dihasilkan, melainkan semua sumber daya dan faktor yang terkait dengan proses produksi dikelola agar terjamin dihasilkannya produk yang bermutu, yakni produk yang sesuai atau melebihi keinginan, harapan, dan kebutuhan pelanggan ( Ali 200:31 )
Keberhasilan penerapan konsep manajemen mutu dalam bidang industry menyebabkan banyak pengelola organisasi, termasuk organisasi pendidikan untuk menerapkan konsep dan prinsip-prinsip manajemen mutu itu dengan modifikasi sesuai dengan kepentingan. Dalm bidang pendidikan ,manajemen mutu merupakan cara mengatur semua sumber daya pendidikan yang diarahka agar semua orang yang terlibat di dalamnya melaksanakan tugas dengan penuh semangat dan berpartisipasi dalam perbaikan, pelaksanaan pekerjaan sehingga menghasilkan jasa yang sesuai atau melebihi kebutuhan konsumen. Penerapan konsep ini dalam bidang pendidikan memerlukan berbagai perubahan. Menurut Herman,J.L dan Herman J.J (1995), perubahan harus dilakukan dalam tiga elemen, yaitu :
1. Filosofi. Dalam upaya peningkatan mutu pendidikan, sekolah dipandang sebagai lembaga produksi yang menghasilkan jasa yang dibutuhkan oleh para pelanggannnya. Mutu jasa yang dihasilkan ditentukan oleh sejauhmana dia memenuhi atau melebihi kebutuhan pelanggan. Agar jasa yang dihasilkan itu secara terus-menerus disesuaikan dengankebutuhan pelanggan ,maka feedback dari pelanggan sangat penting untuk dijadikan dasar dalam menentukan derajat mutu yanf harus dicapai.
2. Tujuan. Tujuan lembaga pendidikan adalah memproduksi jasa yang didistribusikan kepada semua pelanggan. Setiap aktivitas yang menjadi jasa yang diproduksi harus diberikan dalam tigkatan mutu yang lebih tinggi.
3. Proses. Proses pendidikan, mau tidak mau harus memperdulikan kesesuainnya dengan kebutuhan pelanggan. Feedback dari pelanggan ini harus menjadi dasar dalam menetukan derajat mutu jasa yang diproduksi. Untuk mencapai derajat mutu yang didinginkan itu lembaga pendidikan harus menggunakan sumber daya manusia yang terdidik yang baik dengan system dan pengembangan produksi jasa yang memiliki nilai tambah yang memungkinkan pelanggan memperoleh kepuasan yang tinggi.
Dalam penerapan system penjaminan mutu langkah penting pertama yang harus ditempuh adalah melakukan pembakuan mutu. Dalam bidang pendidikan langkah pembakuan mutu juga merupakan langkah penting pertama. Pembakuan mutu pendidikan ini dilakukan seperti halnya yang dilakukan dalam dunia indurtri, baik industry manufaktur maupun industry jasa. Pembakuan mutu dalam dunia industry telah dilakukan secara internasional oleh suatu lembaga yang bernama International Organization for Standarization yang berpusat di Geneva, Swiss. Berdasarkan baku mutu yang telah dikembangkan organisasi ini, kemudian melakukan sertifikasi kepada berbagai lembaga industry, dan memberikan sertifikat yang dikenal dengan nama ISO 9000 (International Standard Organization 9000) Sistem penjaminan mutu model ISO 9000 bisa diterapkan dalam bidang pendidikan. Menurut Sallis (1993) di Negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris, pemikiran untuk menerapkan mutu model ISO 9000 telah dilakukan. Dalam rangka penerapan model ini filosofi pendidikan disesuaikan dengan filosofi yang mendasari ISO 9000 diantaranya bahwa mutu pendidikan harus menjadi bagian dari system manajemen. Atas dasar filosofi ini , system yang menjamin dihasilkan produk, yaitu jasa pendidikan, yang sesuai dengan atau melebihi harapan pelanggan bisa dilakukan dengan pengukuran dan kalibrasi yang tepat.
Dalam bidang pendidikan apabila ini akan diterapkan, maka perlu menempuh langkah-langkah sebagaimana langkah dalam sertifikasi di dunia industry tersebut, dengan langkah-langkah penting pertamanya adalah pembakuan mutu. Departemen For Education and Children’s services (1996), menyarankan agar penjaminan mutu difokuskan pada proses dan hasil pendidikan . Selain itu. Peter Cuttance (Ali,2000:32) menyarankan pula agar penjaminan mutu dimunculkan dari jawaban terhadap pertanyaan sebagai berikut:
a. Bagaimanakah tugas yang harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan yang dijalankan oleh sekolah dalam menentukan prioritas, yaitu tercapainya hasil belajar siswa ?
b. Apa yangingin dicapai oleh sekolah berkaitan dengan relevansi misi sekolah dengan kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan? Dan apa yang perlu dilakukan oleh sekolah selama kurun waktu 3-4 tahun dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat secara lebih baik?
c. Keberhasilan apa yang telah dicapai oleh sekolah? Bagaimanakah sekolah mengetahui bahwa keberhasilan yang telah dicapai adalah sesuai dengan apa yang telah direncanakan? Serta faktor-faktor apa yang mempengaruhi keberhasilan sekolah?
d. Bagaimanakah sekolah merespon tentang keberhasilan yang telah dicapainya?
Dalam upaya merumuskan fokus penjaminan penjaminan mutu ini, metode seperti yang dikemukakan diatas yakni dengan merumuskan respon terhadap pertanyaan –pertanyaan, bukan merupakan satu-satumya metode. Oleh karena itu, apabila konsep penjaminan mutu ini akan diterapkan kita bisa menemukan cara lain yang mungkin lebih komprehensif dalam merumuskan focus, dengan tujuan agar system,proses dan hasil pendidikan tersebut terjamin mutunya berdasarkan baku mutu yang telah ditetapkan.

2.5 Prinsip-prinsip Peningkatan Mutu Pendidikan

Ada beberapa prinsip yang perlu dipegang dalam menerapkan program mutu pendidikan diantaranya sebagai berikut:
a. Peningkatan mutu pendidikan menuntut kepemimpinan professional dalam bidang pendidikan. Manajemen mutu pendiddikan merupakan alat yang dapat digunakan oleh para professional pendidikan dalam memperbaiki system pendidikan bangsa kita’
b. Kesulitan yang dihadapi para professional pendidikan adalah ketidakmampuan mereka dalam menghadapi ‘‘kegagalan sistem’’yang mencegah mereka dari pengembangan atau penerapan cara atau proses baru untuk memperbaiki mutu pendidikan yang ada
c. Peningkatan mutu pendidikan harus melakuka loncatan-loncatan , norma dan kepercayaan lama harus diubah. Sekolah harus belajar bekerjasama dengan sumber-sumber yang terbatas. Para professional pendidikan harus membantu para siswa dalam mengembangkan kemampuan-kemampuan yang dibutuhkan guna bersaing di dunia global.
d. Uang bukan kunci utama dalam usaha peningkatan mutu. Mutu pendidikan dapat diperbaiki jika administrator, guru, staf. pengawas, dan pimpinan kanto Diknas mengembangkan sikap yang terpusat pada kepemimpinan, team, work,kerjasama,akuntabilitas, dan rekognisi. Uang tidak menjadi penentu dalam peningkatan mutu.
e. Kunci utama peningkatan mutu pendidikan adalah komitmen pada perubahan. Jika semua guru dan staf sekolah telah memiliki komitmen pada perubahan, pimpinan dapat dengan mudah mendorong mereka menemukan cara baru untuk memperbaiki efisiensi, produktivitas, dan kualitas layana pendidikan.
f. Banyak frofesioanl di bidang pendidikan yang kurang memiliki pengetahuan dan keahlian dalam menyiapkan para siswa memasuki pasar kerja yang bersifat global. Ketakutan terhadap perubahan, atau takut melakukan perubahan akan mengakibatkan ketidaktahuan bagaimana mengatasi tuntutan-tuntutan baru.
g. Program peningkatan mutu dalam bidang komersial tidak dapat dipakai secara langsung dalam pendidikan, tetapi membutuhkan penyesuaian-penyesuaian dan penyempurnaan. Budaya, lingkungan,dan proses kerja tiap organisasi berbeda. Para professional pendidikan harus dibekali oleh program yang khusus dirancang untuk menunjang pendidikan.
h. Salah satu komponen kunci dalam program mutu adalah system pengukuran. Dengan menggunakan system pengukuran memungkinkan para professional pendidikan dapat memperlihatkan dan mendokumentasikan nilai tambah dari pelaksanaan program peningkatan mutu pendidikan, baik terhadap siswa, orang tua maupun masyarakat.
i. Masyarakat dan manajemen pendidikan harus menjauhkan diri dari kebiasaan menggunakan “program singkat”, peningkatan mutu dapat dicapai melalui perubahan yang berkelanjutan tidak dengan program –program singkat.

2.6 Manajemen Mutu ISO

2.6.1. Pengertian ISO
ISO ( International Organization for Standarization ) adalah federasi bertaraf dunia / internasional dari badan-badan standar nasional. Badan-badan Standar nasional itu disebut badan anggota (member bodies) ISO. Organisasi Swasta Internasional untuk standarisasi ini berkedudukan di Jenewa Swiss.
ISO 9000 adalah salah satu dari segi standar internasional untuk Sistem Manajemen Mutu.
Standar seri ISO 9000 terdiri dari 5 bagian, yang masing-masing berjudul sebagai berikut :
ISO 9000
Panduan system manajemen mutu : secara umum.
ISO 9001
Sistem Manajemen Mutu
Model untuk manajemen mutu dalam perancangan /pengembangan produk, produksi, perakitan dan pelayanan.
ISO 9002
Sistem Manajemen Mutu
Model untuk Sistem Manajemen Mutu dalam produksi dan perakitan
Badan sertifikat akan melakukan audit tiap tahun (surveillance, repeat,audit). Bila tidak lulus, maka sertifikat akan dicabut. Disamping itu sertifikat diperbaharui setiap tahun.

2.6.2 Tujuan dari Standar ISO Seri 9001-2008

Tujuan yang ditentukan pada standar ISO 9001-20008 adalah :
Memenuhi kebutuhan pihak yang berkepentingan
Sesuai untuk ukuran organisasi yang berbeda
Sederhana dan jelas untuk dimengerti
Kompatibel dengan system manajrmen lain
Mengkaitkan system manajemen mutu dengan peoses usaha.

2.6.3 Manfaat standard ISO 9000 series

External customer :
Barang dan /atau jasa yang sesuai dengan persyaratannya,dan
Memberikan kontribusi atas kinerja organisasi melalui umpan balik
Internal customer:
Memperbaiki kondisi kerja
Meningkatkan penghargaan atas kemampuan
Memperbaiki komunikasi
Mampu memberikan kontribusi untuk perbaikan yang berkesinambungan
Owner & Investor:
Memberikan nilai lebih terhadap masyarakat
Memperbaiki hasil operasional
Meningkatkan penghargaan masyarakat
Meningkatkan keuntungan
Supplier & Partner:
Stabilitas
Saling mengerti
Society:
memenuhi hokum dan peraturan berlaku
meningkatkan komunikasi yang efektif

2.6.4 Prinsip Dasar Manajemen Mutu ISO

Fokus pada pelanggan
Kepemimpinan
Pelibatan manusia
Pendekatan Proses
Pendekatan system pada manajemen
Perbaikan berkelanjutan
Pengambilan keputusan berdasarkan fakta
Hubungan dengan pemasok yang saling menguntungkan

2.6.5 Elemen-elemen yang terdapat di dalam ISO 9001-2008

1. Sistem Manajemen Mutu
Hal-halyang harus dilakukan sehubungan dengan system manajemen mutu adalah
Organisasi harus:
Menetapkan ,mendokumentasikan, menerapkan, dan memelihara system manajemen mutunya, serta
Terus menerus memperbaiki keefektifan system manajemen mutunya
Dokumen yang diminta dalam penerapan system manajemen menurut ISO yaitu:
Dokumen system manajemen mutu
Kebijakan mutu dan sasaran mutu
Pedoman mutu
Prosedur operasi standar
Dokumen-dokumen yang diperlukan oleh organisasi
Rekaman yang diminta standart internasional
Dalam ISO 9000 dikenal 4 tingkatan dokumentasi, yaitu:
Tingkat pertama Manual Mutu
Tingkat kedua Standard Operating Procedure
Tingkat ketiga Instruksi Kerja
Tingkat keempat Formulir
2. Tanggung jawab manajemen
Keterlibatan kepala sekolah sebagai puncak pimpinan organisasi dalam pengembangan dan penerapan system manajemen mutu serta perbaikan terus-meneruskeefektifannya dibuktikan dengan menyampaikan ke organisasi pentingnya memenuhi permintaan pelanggan dan peraturan perundang-undangan,
Menetapkan kebijakan mutu
menetapkan sasaran mutu
melakukan tinjauan manajemen
memastikan tersedianya sumber daya.
Kepala sekolah harus memastikan bahwa permintaan pelanggan ditetapkan dan dipenuhi dalam rangka meningkatkan kepuasan pelanggan.
Kepala sekolah harus memastikan bahwa kebijakan mutu
Sesuai dengan misi dan visi organisasi
Mencakup komitmen manajemen untuk untuk memenuhi persyaratan dan terus-menerus memperbaiki keefektifan system manajemen mutunya.
Menyediakan kerangka kerja untuk menetapkan dan meninjau sasaran mutu
Dikomunikasikan dan dipahami oleh seluruh anggota organisasi(para guru dan karyawan) dan
Ditinjau agar terus-menerus sesuai.
Bersama jajaran pimpinan yang relevan dalam organisasi Kepala sekolah menetapkan sasaran mutu, termasuk hal-hal yang diperlukan untuk memenuhi persyaratan produk.
Sasaran mutu yang harus terukur dan taatasas dengan kebijakan mutu.
Karakteristik yang diperlukan dalam merencanakan system manajemen mutu yaitu:
Sistem manajemen mutu direncanakan untuk memenuhi persyaratan yang dituntut Standar Internasional dan sasaran mutunya, serta
Integritas system manajemen mutu harus tetap terpelihara pada saat perubahannyadirencanakan dan diterapkan.
Kepala sekolah menetapkan tanggungjawab dan wewenang karyawan dan harus dikomunikasikan dalam organisasi.
Kepala sekolah menugaskan seorang manajemen untuk memikul tanggung jawab dan memiliki wewenang tambahan , yaitu:
Menetapkan, menerapkan , dan memelihara proses yang diperlukan bagi system manajemen mutu
Melaporkan kepada kepala sekolah tentang perihal kerja system manajemen mutunya dan kebutuhan untuk perbaikannya
Membangkitkan kesadaran tentang pentingnya permintaan pelanggan di seluruh organisasi.
Kepala sekolah menetapkan kapan system manajemen mutu ditinjau untuk mengetahui kesesuaian, kecukupan, dan keefektifannya.
Tinjauan ini mencakup penilaian peluang perbaikan dan kebutuhan perubahan system manajemen mutu termasuk kebijakan dan sasaran mutunya.
Masukan yang diperlukan untuk tinjauan manajemen harus meliputi:
Hasil audit terakhir
Umpam balik (feedback) dari proses dan kesesuaian produk
Status tindakan preventif dan korektif
Tindak lanjut dari tinjauan manajeman yang lalu
Perubahan-perubahan yang dapat mempengaruhi system manajeman yang lalu
Perubahan –perubahan yang dapat mempengaruhi system manajemen mutu dan
saran-saran untuk perbaikan.
Keluaran yang dihasilkan dari tinjauan manajemen harus meliputi:
Perbaikan keefektifan system manajemen mutu dan prosesnya.
Perbaikan produk sehubungan permintaan palanggan, dan
Sumber daya yang diperlukan.
3. Manajemen Sumber Daya
Organisasi harus menetapkan dan menyediakan sumber daya yang diperlukan untuk
Menerapkan dan memelihara system manajemen mutu serta memperbaiki keefektifannya secara terus-menerus, dan
Meningkatkan kepuasan pelanggan dengan memenuhi permintaannya.
Karyawan pelaksana pekerjaan yang mempengaruhi mutu produk harus memiliki kompetensi yang tepat atas dasar
Pendidikan
Pelatihan
Keterampilan
Pengalaman
Organisasi harus menetapkan kompetensi yang diperlukan bagi karyawan yang melaksanakan pekerjaan yang mempengaruhi mutu.
Organisasi harus melakukan tindakan sehingga para karyawan menyadari relevansi dan pentingnya kegiatan mereka untuk mencapai sasaran mutu.
Organisasi harus:
Menyelenggarakan pelatihan yang diperlukan atau tindakan lain untuk m,emenuhi kebutuhan kompetensi
Menilai keefektifan tindakan yang dilakukan
Memelihara secara tepat rekaman tentang pendidikan, pelatihan, keterampilan dan pengalaman para karyawan.
Organisasi harus menetapka , menyediaka dan memelihara sarana yang diperlukan untuk mencapai kesesuaian dengan persyaratan produk.
Sarana meliputi:
Gedung ,ruang kerja,kelengkapan terkait
Peralatan proses kerja, dan
Jasa pendukung ( missal transparansi atau komunikasi.
Organisasi harus menempatkan dan mengelola lingkungan kerja yang diperlukan untuk mencapai kesesuain dengan persyaratan produk.
4. Realisasi Produk
Organisasi harus merencanakan dan mengembangkan proses yang diperlukan untuk merealisasikan produk.
Dalam merencanakan realisasi produk, organisasi harus menetapkan :
Sasaran mutu dan persyaratan produk yang akan dibuat
Proses dokumen, dan sumber daya yang khas dari produk tersebut
Kegiatan verivikasi, validasi, pemantauan ,pengukuran, pengujian yang khas bagi produk tersebut, dan kriteria keberterimaannya
Rekaman yang diperlukan untuk memberikan bukti bahwa proses realisasi dan produk yang dihasilkan tersebut memenuhi persyaratan
Organisasi harus menetapkan produk
Yang diminta/ditentukan oleh pelanggan
Yang tidak dinyatakan pelanggan, tetapi diperlukan untuk fungsinya
Yang diatur oleh peraturan perundang-undangan, dan
Yang ditambahkan sendiri oleh organisasi.
Organisasi harus melaksanakan tinjauan atas persyaratan produk sebelum kontrak/order diterima/disetujui
Organisasai harus menetapkan dan menerapkan pengaturan yang efektif untuk berkomunikasi dengan pelanggan
Organisasi harus memastikan bahwa produk yang dibeli memenuhi persyaratan pembelian yang ditentukan berdasarkan kemampuannya memasok produk sesuai dengan persyaratan organisasi
Organisasi harus menetapkan persyaratan pembelian sebelum diinformasikan kepada pemasok.
Organisasi harus menetapkan dan menerapkan kegiatan infeksi untuk memastikan bahwa produk yang dibeli memenuhi persyaratan pembelian yang ditentukan.
Untuk memberikan bukti kesesuaian produk dengan persyaratan yang ditentukan, maka organisasi harus menetapkan
Kegiatan pemantauan dan pengukuran yang akan / harus dilakukan.
Sasaran pemantauan dan pengukuran yang diperlukan
Untuk memastikan keabsahan hasil pengukuran, sarana pengukuran harus
Dikalibrasi secara berkala
Memiliki identitas
5. Pengukuran, Analisis, dan perbaikan
Organisasi harus merencanakan dan menerapkan proses pemantauan. pengukuran, analisis dan perbaikan:
Untuk memperagakan kesesuaian produk
Untuk memastikan kesesuaian system manajemen mutu, dan
Untuk terus menerus memperbaiki keefektifan system manajemen mutu
Organisasi harus menetapkan cara untuk memperoleh dan menggunakan informasi tentang pemenuhan permintaan pelanggan lewat produk yang diserahkan.
Audit internal adalah kegiatan untuk mengetahui apakah system manjemen mutu
Sesuai dengan peraturan yang telah direncanakan,
Sesuai dengan tuntutan standar internasional (ISO 9000 )
Sesuai dengan tuntutan system manjemen mutu yang ditetapkan oleh organisasi.
Program audit internal dilakukan pada interval / selang waktu yang direncanakan oleh organisasiPelaksana audit internal adalah karyawan sendiri yang telah mendapat pelatihan tentang bagaimana merencanakan dan melaksaksanakan audit. Auditor tidak boleh mengaudit pekerjaanya sendiri.
Laporan hasil Audit berisi
Temuan observasi ( observation )
Temuan penyimpangan ( deviation ) dengan criteria : Ringan / minor atau major / berat

Walaupun tindak lanjut terhadap temuan observasi bersifat anjuran ( sukarela ). Sebaiknya tetap dilakukan dalam rangkah perbaikan terus menerus.
Untuk menindak lanjuti temuan penyimpangan, manajemen bersama audite ( unit kerja yang diaudit ) menerapkan :
Koreksi ( correction ) untuk membetulkan penyimpangan, dan
Tindakan koreksi ( corrective action ) agar penyimpangan tidak tejadi lagi.

Setelah tindak lanjut dilaksanakan, manajemen melakukan tindakan apakah tindakan tersebut sesuai dan efektif.
Sebagian besar badan sertifikasi mensyaratkan bahwa organisasi telah melaksanakan sekurang-kurangnya satu kali audit internal sebelum auditor dari badan sertifikasi melakukan audit.
Organisasi harus menerapkan metode yang sesuai untuk memantau dan ( jika dapat ) untuk mengukur proses dan system manajmen mutu. Metode-metode ini harus dapat diperagakan kemampuan proses untuk mencapai hasil yang dilaksanakan. Bila hasil yang direncanakan tidak tercapai, koerksi dan tindakan korektif harus dilakukan.
Organisasi harus memantau dan mengukur karakteristik produk untuk verifikasi bahwa produk terpenuhi.
Yang dimaksud produk tidak sesuai (non conference, KTS) adalah produk yang terbukti tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan, misalnya dalam hal bentuk, ukuran, berat, warna, dan sebagainya. Organisasi harus menetapkan prosedur mengendalikan produk yang tidak sesuai.
Pengendalian produk yang tidak sesuai dilakukan dengan (salah satu atau lebih). :
Koreksi, Yaitu menghilangkan ketidak sesuaian yang ditemukan.
a.Membolehkan pemakaian / pelepasan dengan konsesi (kerelaan melepas tuntutan) dari yang berwenang dan bila mungkin juga dari pelanggan.
b.Mencegah produk yang tidak sesuai apabilla / diterapkan untuk tujuan yang semula dimaksudkan.

Organisasi harus menetapkan, menghimpun dan menganalisis data tentang
Kepuasan pelanggan
Kaesesuaian dengan persyaratan produk
Karakteristik dan kecenderungan proses dan produk, termasuk juga peluang untuk tindak pencegahan (preventive), dan pemasok (suplier)

Untuk memperagakan kesesuaian dan keefektifan system manajemen mutunya,
Untuk menilai dimana perbaikan berlanjut terhadap system manajemen mutunya dapat dilakukan

ISO 9000 menuntut organisasi untuk terus menerus memperbaiki system manajemen mutunya.
Perbaikan berlanjut dilakukan melalui perbaikan
Kebijakan mutu
Sasaran audit
Hasil audit
Analisis data
Tindakan korektif dan pencegahan
Tinjauan manajemen

ISO 9000 menurut organisasi untuk menghilangkan penyebab terjadinya ketidak sesuaian agar tidak terulang.
Organisasi harus memiliki prosedur untuk mendefinisikan / menetapkan peryataan bagi
Peninjauan ketidaksesuaian (termasuk keluan pelanggan)
Penetapan ketidaksesuaian
Penilaian kebutuhan tindakan untuk memastikan bahwa ketidak sesuaian tidak terulang
Penetapan dan penerangan tindakan yang diperlukan Rekaman hasil yang dilakukan
Tinjauan atas tindakan yang dilakukan ISO 9000 menurut organisasi untuk menetapkan tindakan dalam rangkah menghilangkan penyebab ketidaksesuaian potensial agar tidak terjadi.
Organisasi hrus memiliki prosedur untuk mendefinisikan / menetapkan persyaratan bagi :Penetapan ketidaksesuaian potensial dan penyebabnya
Penilaian kebutuhan tindakan untuk memastikan bahwa ketidaksesuaian tidak terjadi.
Penetapan dan penerapan tindakan yang diperlukan
Catatan/Rekaman hasil tindakan yang dilakukan tinjauan atas tindakan yang dilakukan.




































BAB 111
PEMBAHASAN


3.1 Visi, Misi dan Strategi SMKN 3 Kuningan

Dalam penerapan manajemen mutu ISO 9001-2000 SMKN 3 Kuningan mempunyai Visi dan Misi sebagai berikut;
VISI: “Menjadi Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan Terpadu Bidang Teknologi yang Berkualitas dan bertaraf Internasional”
MISI:
1. Membekali peserta didik dengan budi pekerti luhur,akhlak mulia, imandan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Memberikan layanan prima di bidang pendidikan teknologi berbasis Tekhnologi Imformasi dan Komunikasi (TIK)
3. Membekali peserta didik dengan kompetensi yang terstandar serta memiliki kecakapan hidup yang mandiri
4. Menjalin kerjasama kemitraan yang harmonis dengan stake holder dalam rangka mengimplementasikan Link and Mach.
5. Memberdayakan dan mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki untuk meningkatkan mutu pendidikan dan kemandirian sekolah
6. Menerapkan suasana kerja yang kondusif dengan wawsan budaya mutu
7. Membudayakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar
8. Mengembangkan budaya sehat jasmani dan rohani melalui olah raga dan Seni
9. Memberdayakan dan mengembangkan Sekolah berbudaya Lingkungan
10. Meningkatkan layanan bimbingan dan konseling untuk seluruh peserta didik
Dengan Visi dan Misi tersebut sekolah mempunyai peran mendidik dan melatih siswanya untuk mengembangkan kemampuan dan pembentukan watak yang beradab sehingga setelah lulus nanti bisa mandiri, mempunyai keahlian yang berkualitas , melanjutkan ke Perguruan Tinggi atau menciptakan lapangan kerja.

3.2 Kebijakan Mutu SMKN 3 Kuningan

Sesuai dengan Visi dan Misi, SMK Negeri 3 Kuningan mempunyai kebijakan mutu sebagai berikut:
1. SMK Negeri 3 Kuningan menerapkan system Manajemen Mutu ISO 9001-2000 agar menjadi sekolah bertaraf Internasional.
2. Segenap elemen SMK Negeri 3 Kuningan bertanggung jawab dan berperan aktif meningkatkan layanan prima secara terus-menerus untuk memenuhi kepuasan pelanggan.
Sesuai dengan prinsip manajemen mutu ISO yang pertama menyatakan bahwa organisasi sangat bertanggung jawab pada eksistensi pelanggan, perlu komunikasi yang baik dengan pelanggan, memahami harapan dan kebutuhan pelanggan saat ini dan yang akan datang, merencanakan untuk memenuhi persyaratan dan melampaui harapan, manajemen puncak harus menjamin bahwa persyaratannya dipastikan dan dipenuhi guna meningkatkan kepuasan pelanggan.
3. Budaya mutu yang akan diterapkan di SMK Negeri 3 Kuningan diwujudkan dalam kebijakan sebagai berikut:
Tekun belajar dan bekerja
Efektif dan efisien dalam berpikir dan bertindak
Konsekuen dan bertanggung jawab dalam melaksanakan aturan
Nalar dan naluri positif berdasarkan iman dan taqwa
Inovatif dan kreatif dalam berkarya
Kompetitif dalam meraih masa depan

3.3. Sasaran Mutu SMK Negeri 3 Kuningan

Bersama jajaran pimpinan yang relevan dalam organisasi Kepala Sekolah menetapkan sasaran mutu, termasuk hal-hal yang diperlukan untuk memenuhi persyaratan produk. Sasaran mutu terukur dan taat pada asa dengan kebijakan mutu.
Sasaran mutu SMK Negeri 3 Kuningan sebagai berikut
1. Sasaran Mutu Kepala Sekolah
Mengadakan MOU debgan partner asing tempat uji kompetensi dan sertifikasi
Mengadakan MOU dengan industry luar negeri dalam rekutmen lulusan
Menjalin hubungan “ system school” dengan sekolah di Negara anggota OECD atau Negara maju lainnya.
Memiliki sertifikat akreditasi tambahan dari Negara OEDC
Mendapatkan sertifikat akreditasi dari BAN-SM nilai A untuk 5 program keahlian
100% pembiayaan sesuai dengan pos anggaran
2. Sasaran Mutu WMM
1) Menjadi acuan bagi sekolah lain dalam Sistem Manajemen
2) 100 % Menerapkan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2000
3) Mendapat Sertifikat SMM ISO 9001:2008
3. Sasaran Mutu WKS Hubin
1) Memiliki data 1 Partner asing yang siap menjalin kerja sama sebagai tempat Uji kompetensi dan sertifikasi.
2) Memiliki data 1 Industri luar negeri yang siap melaksanakan rekruitmen lulusan.
3) Memiliki data 1 sekolah di Negara anggota OECD atau Negara maju lainnya yang siap menjadi partner “sister school”.
4) Memiliki data 1 negara anggota OECD atau Negara maju lainnya yang siap melaksanakan akreditasi.
5) Menjalin kerja sama dengan 1 lembaga pendidikan atau industry sebagai guru tamu untuk tiap Program Studi Keahlian.
6). Penelusuran tamatan 50% terlaksana.
4. Sasaran Mutu WKS Kurikulum
1) Menjadi acuan bagi sekolah lain dalam bidang KBM
2) 30 % Mata Pelajaran menerapkan pembelajaran berbasis TIK
3) Menggunakan kurikulum yang mengacu pada 1 negara anggota OECD atau Negara maju lainnya.
4) Rata – rata nilai ujian Nasional untu Mata Pelajaran Normatif, Adaftif dan produktif 7,5.
5) Meraih Juara Harapan Tingkat Nasional pada kompetensi bidang sains dan teknologi.
6) 20 % Pembelajaran mempergunakan Bahasa Inggris olehg guru tamu untuk 5 Kompetensi Tiap Program Studi Keahlian terpenuhi.
7) 20% Peserta didik kelasXII memiliki Skor TOEIC >400.
8) 20 % dari seluruh kompetensi melaksanakan pembelajaran menggunakan dwi bahasa (Inggris – Indonesia).
9) Menerapakan Sistem Kredit Semester (SKS) untuk kelas X.
10) 80 % taraf serap mata pelajaran tercapai
5. Sasaran Mutu WKS K esiswaan
100 % Peserta didik tidak terlibat perkelahian (tawuran) narkoba, miras, dan tindakan kriminalitas lainnya.
Menjadi acuan bagi sekolah lain dalam bidang Tata tertib.
100 % peserta didik melaksanakan tata tertib sekolah.
Meraih juara Harapan Tingkat Nasional pada salah satu bidang olah raga dan seni.
60 % dari jmlah peserta didik melaksanakan ekstra kurikuler bidang olah raga dan seni.
80 % areal kosong ditnami tanaman pelindung dan tanaman obat.
80 % dari lingkungan Sekolah bersih, indah, rindang, dan bebunga.
100 % Penerimaan Peserta Didik Baru sesuai prosuder.
6. Sasaran Mutu WKS SDM
10 % dari jumlah Tenaga Pendidik berpendidikan S2
100 % menerapkan prinsip kesetaraan gender dalam segala aspek pengolaan sekolah.
96 % terpenuhinya tenaga pendidik dan kependidikan sesuai dengan matrik kompetensi.
1 hari dari 6hari kerja komunikasi antar warga mempergunakan Bahasa Inggris.
20 % dari jumlah tenaga pendidik memiliki Skor TOEIC > 450
92 % tenaga pendidik dan kependidikan tidak menghisap rokok di linkungan sekolah.
75 % peningkatan kompetensi tenaga pendidik dan kependidikan.
100 % kehadiran tenaga pendidik dan kependidikan.
7. Sasaran Mutu WKS Sarprasil
Menjadi acuan bagi sekolah lain dalam bidang lingkungan.
30 % dari sarana pembelajaran berbasis TIK.
20 % tiap Program Studi Keahlian memiliki sarana bengkel advance.
20 % ruang teori dilengkapi dengan sarana pembelajaran berbasis TIK
10 % pembangunan gedung seba guna terpenuhi.
100 % pengadaan bibit tanaman pelindung dan tanaman obat.
20 % dari limbah yang terkumpul diolah menjadi pupuk organic.
100 % pengadaan peralatan K3.
8. Sasaran Mutu BKK
15 orang Lulusan bekerja di luar negeri.
40 % lulusan bekerja di industri.
9. Sasaran Mutu MR
100 % Usulan Perbaikan dan Perawatan Sarana dan Prasarana yang rusak ringan terpenuhi.
10. Sarana Mutu Perpustakaan
30 % sarana pembelajaran berbasis TIK
30 % kebutuhan buku pelajaran terpenuhi dari jumlah siswa.
Penambahan 50 judul buku referansi.
11. Sasaran Mutui Prakerin
100 % siswa praktek kerja industry dapat dimonitoring.
100 % siswa prakerin selama 800 jam.
siswa praktek kerja industri 30 % pada industri bertaraf internasional.
100 % Peserta Didik melaksanakan Prakenin sesuai dengan kompetensi keahliannya.
12. Sasaran Mutu BK
65 % Lulusan siap berwirausaha.
5 % Lulusan meneruskan ke perguruan tinggi.
100 % dari peserta didik yang bermasalah diselesaikan.
100 % Potensi diri peserta didik dikembangkan.
13. Sasaran Mutu TU
100 % data nilai peserta didik berbasis TIK.
100 % pembiayaan sesuai dengan pos anggaran.
14. Sasaran Mutu Program Keahlian ( TBG, TMO, TAV, TKL, MM )
30 % Mata Pelajaran Produktif menerapkan pembelajaran berbasis TIK.
20 % memiliki sarana bengkel advance.
Rata – rata nilai Ujian Nasional untuk Mata Pelajaran Produktif 7,5.
Meraih Juara Harapan Tingkat Nasional pada salah satu kompetensi teknologi.
1 kompetensi mempergunakan Bahasa Inggris oleh guru tamu.
20 % dari seluruh kompetensi melaksanakan pembelajaran menggunakan dwi bahasaa (Inggris – Indonesia)
15. Sasaran Mutu UP
Inovasi produk 60 % dari 10 Produk Barang/Jasa terpenuhi.

Semua sasaran mutu tersebut merupakan tanggung jawab personil di SMK Negeri 3 Kuningan., karena sasaran mutu melibatkan seluruh tingkat dan setiap orang. Setiap orang dapat dilibatkan dengan berbagai cara sesuai dengan karakternya.Komunikasi adalah hal yang paling penting dan mendasar.Pelatihan merupakan sarana berkomunikasi, melibatkan membuat orang menjadi mampu.

3.4 Penerapan Mutu ISO di SMK Negeri 3 K uningan

Penerapan Mutu ISO di SMK Negeri 3 Kuningan menggunakan pendekatan proses , pada saat pengembangan ,menerapkan dan memperbaiki keefektifan system manajemen mutu untuk meningkatkan kepuasan pelanggan dengan memenuhi permintaan pelanggan. Pendekatan proses ini menekankan pentignya:
Memahami dan memenuhi persyaratan
Kebutuhan untuk mempertimbangkan proses dalam pengertian nilai tambah
Memperoleh hasil kerja dari proses dan keefektifannya
Perbaikan berlanjut dari proses berdasarkan pengukuran yang objektif
Tahapan langkah – langkah yang dilakukan dalam pendekatan proses adalah :
Rencanakan Plan
Kerjakan do
Periksa Check
Lakukan tindakan Action


Pengembangan Organisasi sebagai Siklus Diagnosis




















BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN


4.1 Simpulan

Melaksanakan manajemen mutu dalam organisasi berarti mengadakan perubahan mendasar dalam organisasi, yang meliputi perubahan cultural dan perubahan substantive dalam manajemen. Agar supaya perubahan untuk perbaikan tersebut terjadi, perlu ada persyaratan yang meliputi fakto-faktor : 1) Pandangan jauh ke depan (vision) pimpinan, (2) Kecakapan instrinsik di kalangan anggota organisasi, (3) Insentif fisik dan fsikologik yang diterapkan, (4) Sumber-daya tersedia yang memadai dan (5) Rencana tindak yang “feasible”. Kurang dipenuhinya satu faktor tersebut, perubahan yang diharapkan, sukar atau tidak akan terjadi. Misalnya tanpa vision pimpinan maka akan berakibat salah arah dalam kegiatan. Selanjutnya tanpa insentif sehingga tidak ada motivasi di kalangan para anggota organisasi, maka perubahan yang diharapkan dapat dapat terwujud,tetapi dalam waktu yang lama. Kemudian tanpa sumber daya yang memadai, perubahan tidak dapat terwujud sehingga mengakibatkan kekecewaan di kalangan anggota organisasi. Akhirnya tanpa rencana tindak yang baik, maka perubahan hanyalah merupakan impian belaka.Dengan demikian untuk perubahan yang kompleks diperlukan “ingredients” tersebut diatas.


4.2 Saran

Melihat perubahan global saat ini khususnya di dunia pendidikan,sebaiknya organisasi memiliki fase-fase perubahan yang direncanakan agar bisa meningkatkan efisiensi, bisa menghadapi persaingan bebas, mempunyai jaminan produk & jasa yang berkualitas sehingga bisa memenuhi tuntutan pelanggan.Fase-fase tersebut yaitu: (1) Unfreezing. Fase membantu orang-orang memahami bahwa diperlukan adanya perubahan, mengingatkan bahwa situasi tidak memungkinkan lagi.(2). Changing. Fase tindakan membiasakan karyawan dari cara-cara kerja yang lama, dan dibentuk hubungan-hubungan baru. (3) Refreezing.Fase memperkuat perubahan-perubahan yang telah dilaksanakan,hingga cara-cara baru distabilisasikan














DAFTAR PUSTAKA


Ali, M. (2000), “Sistem Penjaminan Mutu dalam Manajemen Mutu Pendidikan”. Jurnal Mimbar Pendidikan, No.1 Tahun XIX, hal 28-30.

Herman,J.L. dan Herman, J.J. (1995),Total Quality Management (TQM) For Education”
Journal of Educational Technology, May-June (halaman 14-18)

Sallis, E, (1993). Total Quality Management In Education. London : kogan Page Ltd


Tenner, A.R. dan De Toro, I.J.(1992) Total Quality Management three Steps To Contonuous Improvement. Reading, MA: Addison-Wesley Publishing Company.
Harjosoedarmo, Soewarso (1996), Total Quality Management,Fellow of the world Academy of Quality and productivity Science, Andi Yogyakarta.

Panduan Mutu ISO 9001-2008, SMK Negeri 3 Kuningan









































BIODATA


NAMA : ARIYAH

TEMPAT TGL LAHIR : CIAMIS, 14 JUNI 1970

PENDIDIKAN : PASCA SARJANA UNIVERSITAS

GALUH CIAMIS

PEKERJAAN : GURU SMPN 1 PANAWANGAN


0 komentar: